Rabu, 16 Februari 2011

Agar Lebih Mencintai Rosululloh Muhammad


Pernahkah kita membayangkan, andaikan Rosul Muhammad hadir di tengah-tengah kita saat ini? Tentu kita semua akan merasakan kebahagiaan yang membuncah. Air mata kerinduan pasti tak akan terbendung lagi. Dialah kekasih Alloh, manusia pilihan Alloh, penerima wahyu Al Quran sebagai penyelamat jalan hidup manusia. Uswah (teladan) yang sempurna, dengan akhlak yang sungguh menakjubkan. Akhlak yang membuat hati siapapun tergetar. Allohumma sholli ‘alaa Muhammad. 

Masih ingatkah kita kisah tentang seorang kakek buta di pasar Madinah, yang selalu menghina dan memaki-maki Rosul Muhammad? “Muhammad gila”, begitulah kata-kata yang keluar dari mulut sang kakek itu. Tapi Muhammad tidak marah, bahkan selalu memberi makan dan menyuapi si kakek tersebut. Si kakek pun tidak tahu kalau yang memberi makan dan menyuapinya adalah Muhammad yang selalu dia hina. Hingga ketika Rosul Muhammad meninggal, kebiasaan menyuapi si kakek buta itupun dilanjutkan oleh sahabat beliau, Abu Bakar. Tapi si kakek tahu, kalau orang yang menyuapinya bukanlah orang yang biasanya, karena kasar, tidak selembut yang biasanya. Dan Abu Bakar pun memberi tahu, kalau yang selama ini menyuapinya, adalah Muhammad Rosululloh. Sang kakek baru tahu ternyata orang yang selalu dihina dan dimaki-makinya adalah orang selalu memberi makan dan menyuapinya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Subhanalloh..

Atau kisah ketika Nabi berdakwah ke Thaif? Ketika dakwah Nabi tidak diterima oleh kaum Quraisy Makah, bahkan mendapat pertentangan dan ancaman, Nabi pun mencoba untuk berdakwah ke daerah Thaif, dengan harapan masyarakat Thaif lebih menerima dakwah beliau. Tapi apa yang didapatkan? Nabi disiksa, dilempari batu, sampai mulut dan kaki beliau berdarah. Malaikat Jibril yang menyaksikan penderitaan yang dialami Muhammad pun sampai tidak tega. Hingga malaikat Jibril pun menawarkan kepada Nabi untuk merubuhkan bukit Thaif, dan menimpakannya ke masyarakat Thaif yang telah melukai Nabi. Tapi apa jawaban Nabi kepada Jibril? Nabi menolak tawaran Jibril dengan mengatakan kepada Jibril, mereka melakukan demikian karena belum tahu, dan Nabi berharap kelak dari keturunan mereka akan muncul generasi pembela dakwah beliau. Sehingga Nabi pun tidak menerima tawaran Jibril yang hendak membinasakan masyarakat Thaif yang telah menyakiti dan melukai Nabi. Subhanalloh.. akhlak yang benar-benar menakjubkan.

Ketika kondisi masyarakat saat ini semakin jauh dari nilai-nilai spiritual, krisis multidimensi di segala lini : krisis moral, krisis kepemimpinan, semakin memudarnya nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, keadilan, membuat kita semakin merindukan sosok Muhammad. Andaikan beliau hadir di tengah-tengah kita saat ini, mungkin kondisi masyarakat tidak akan seburuk dan separah seperti sekarang. Semua permasalahan bisa ditanyakan langsung ke Nabi, seperti saat-saat para sahabat menghadapi persoalan. Dan saat itu langsung mendapat jawaban dan solusi dari Nabi, dan jawaban Nabi tentu atas bimibingan Alloh. Mungkin hal itu membuat kita iri dengan para sahabat yang bisa hidup bersama dengan Rosul Muhammad. 

Namun ternyata Muhammad tetap memuliakan umatnya yang hidup di masa yang jauh dari masa hidup Rosululloh. Mereka dimuliakan karena mereka tidak pernah bertemu Rosululloh, tidak hidup di masa Rosululloh, tapi sangat mencintai Rosul. Kebahagiaanlah yang dijanjikan oleh Rosul bagi orang-orang yang tidak pernah melihat Rosul, tapi beriman dan mencintainya. Berikut dialog antar Nabi dan para sahabat  yang menjelaskan tentang keutamaan orang-orang yang tidak pernah bertemu Rosul, tapi tetap beriman dan mencintainya.

Iman Yang Paling Menakjubkan

                Seusai mendirikan sholat Subuh, beliau (Muhammad SAW) menghadap para sahabat kemudian bersabda, “Siapakah makhluk Alloh yang imannya paling menakjubkan?”
Para sahabat                  : “Para Malaikat”
Nabi pun menjawab        : “Bagaimana Malaikat tidak beriman sementara mereka pelaksana perintah Alloh”.    (tapi bukan itu yang kumaksud)
Sahabat                         : “Kalau begitu, para Nabi, ya Rosululloh”
Nabi                              : “Bagaimana para Nabi tidak beriman, padahal wahyu dari langit turun kepada mereka.” (tapi bukan itu yang kumaksud)
Sahabat                         : “Sahabat-sahabatmu ya Rosululloh”
Nabi                              : “Bagaimana para sahabat tidak beriman, sementara mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan.” (mengetahui mukjizatnya, hidup bersama dan melihat Nabi dengan mata kepalanya sendiri)
Nabi pun menjelaskan, orang yang paling menakjubkan imannya adalah kaum Muslimin yang datang sesudahku. Mereka beriman kepadaku, padahal mereka tidak pernah melihatku. Mereka membenarkanku tanpa pernah melihatku. Mereka menemukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka membelaku sebagaimana kalian membelaku.  Alangkah senangnya aku berjumpa dengan ikhwanku, kemudian beliau membaca ayat berikut:
“Mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian dari apa yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah: 66-68)
Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku.
Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku, kalimat terakhir itu diulangi Rosululloh sebanyak 7 kali. 


Allohumma Sholli ‘Alaa Muhammad

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rosul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS.9 : 128)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar